Showing posts with label mendidik balita. Show all posts
Showing posts with label mendidik balita. Show all posts

Friday, December 18, 2015

Cara Mengenalkan Gadget Secara Bijak pada Anak



Era komunikasi dan teknologi saat ini tidak dipungkiri telah banyak membatu manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Hubungan antar-manusia seakan tak berjarak. Begitu banyak pekerjaan yang terbantu dan dimudahkan oleh komunikasi dan teknologi yang semakin canggih.

Gadget adalah sebuah istilah yang berasal dari bahasa Inggris, yang artinya perangkat elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus. Salah satu hal yang membedakan gadget dengan perangkat elektronik lainnya adalah unsur “kebaruan”. Artinya, dari hari ke hari gadget selalu muncul dengan menyajikan teknologi terbaru yang membuat hidup manusia menjadi lebih praktis.

Gadget bisa berbentuk televisi, handphone, komputer dan ragam bentuk yang sama (tablet,Pad), play station, dan berbagai perangkat elektronik lain yang selalu up to date dengan perkembangan zaman dan kebutuhan umat manusia.

Namun, dalam perkembangannya, keberadaan gadget ini juga membawa dampak yang tak diharapkan bagi kehidupan manusia. Tak sedikit di jumpai dalam kehidupan di dalam rumah tangga, sekeluarga yang tinggal dalam satu rumah, namun sibuk dengan kehidupan bersama gadget masing-masing. Anak asyik menonton televisi atau bermain game sementara orang tua juga tak kalah asyiknya mengotak-atik handphone-nya. Atau, seringkali juga orang tua menyaksikan sebuah keluarga yang mengadakan acara makan bersama di sebuah tempat makan, tampak secara fisik mereka duduk bersebelahan, akan tetapi secara psikis masing-masing mereka berjauhan, karena masing-masingnya asyik berinteraksi dengan handphone-nya masing-masing, Kiranya tak salah bila sebuah temuan yang menyatakan bahwa gadget dapat mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

Berbagai dampak kurang baik juga akan timbul bila menggunakan gadget dengan tidak bijak. Terutama pada anak, penggunaan gadget yang berlebihan akan dapat menyebabkan kecanduan yang dapat menurunkan prestasi belajar dan berdampak pada perilaku sosial.  

Dalam paparannya Nurlita Endah Karunia, S.Psi., psikolg dari Fakultas Psikolgi Ubaya menyampaikan bahwa dalam mengenalkan gadget pada anak perlu diperhatikan 3 hal.

1. frekuensi. Perlu dibuat ketentuan yang disepakati bersama tentang frekuensi, atau seberapa sering gadget tersebut di gunakan, apakah seminggu sekali atau dua kali, juga waktu penggunaannya dalam seminggu apakah di hari Sabtu atau Minggu. Bila kesepakatan telah dibuat, maka orang tua diharapkan untuk konsisten menegakkan aturan yang sudah dibuat, sehingga anak dapat belajar tentang disiplin dari penegakan aturan yang dilakukan.

2. durasi. Selain jumlah waktu penggunaan gadget, lamanya waktu penggunaan juga perlu dilakukan kesepakatan tentang lamanya waktu penggunaan gadget. Apakah satu jam untuk tiap kali pemakaian, dan seterusnya. Kesepakatan durasi ini perlu dilakukan agar anak tahu batas waktu. Seringkali anak memanfaatkan akhir pekan dengan bermain game sepanjang hari, bahkan tak jarang sampai lupa mandi. Dengan aturan durasi ini diharapkan anak dapat mengendalikan keinginan untuk terus bermain gadget.

3. isi. Tak kalah penting yang harus diperhatikan orang tua dalam penggunaan gadget adalah content/isi gadget yang dimainkan. Tak sedikit game di gadget yang mengajarkan kekerasan bahkan pembunuhan dengan menampilkan yang tak layak di lihat oleh anak. Dan, ini seringkali memicu perilaku agresivitas pada anak, karena anak cenderung berperilaku meniru.

Dari ke tiga hal tersebut diatas tak kalah pentingnya adalah melakukan tindakan pengamanan saat anak mulai dikenalkan pada gadget, langkah yang harus dilakukan adalah tidak ada ponsel berkamera. Penyalahgunaan ponsel sering terjadi pada anak. Maka jangan pernah memberikan ponsel berkamera kepada anak . Jika anak tertarik pada fotografi, lebih baik bila anak di belikan kamera betulan bukan ponsel berkamera. Non-aktifkan internet di tab. Anak boleh memegang tablet orang tua setelah menonaktifkan internet. Penggunaan internet yang terlalu dini tampak pengawasan bisa berdampak negatif pada perkembangan anak.

Melacak penggunaan internet, orang tua dapat memblokir situs-situs dewasa dengan menggunakan sistem Walling di koneksi Internet . Pastikan juga selalu melacak penggunaan internet anak. Pastikan pendampingan saat anak mulai bisa menggunakan internet. Batasi waktu bermain. Banyak anak mulai kecanduan game online atau video game. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain di depan layar komputer, ponsel, maupun TV. Maka, sebaiknya batasi kebiasaan buruk itu pada anak. Jangan sampai anak kehilangan waktu bersosialisasinya di luar.

Tak kalah pentingnya adalah perilaku orang tua itu senidri dalm menggunakan gadget. Tak jarang orang tua juga terlalu berlebihan dalam memakai gadgetnya sehingga seringkali anak merasa terabaikan dengan adanya gadget. Berikut tips agar hubungan sosial dalam keluarga menjadi sehat tanpa terintervensi adanya gadget.

Hindari tampak terlalu lama atau terlalu sering gunakan gadget di depan Anak. Meski zaman sekarang semua serba canggih, hindari menggunakan gadget di depan anak terlalu lama. Pastikan punya perhatian lebih banyak pada anak sehingga anak tidak belajar perilaku berlama-lama di depan gadget canggih. Hindari juga perilaku makan sambil menggunakan ponsel atau duduk di depan komputer.

Tidak perlu membelikan gadget canggih terlalu dini untuk anak. Sebenarnya tidak ada salahnya, hanya saja anak belum benar-benar membutuhkannya. Hal ini bisa berdampak di masa depan karena ia kehilangan masa kecil yang seharusnya bermain dan belajar, tapi malah tersita oleh sebuah gadget. Selain itu, bijak membelikan gadget juga akan menghindarkan anak dari resiko kriminal seperti perampokan karena anak kecil belum mampu untuk melindungi dirinya sendiri.

Selalu upayakan tatap muka.Batasi mengirim e-mail dan pesan instan kepad keluarga di rumah. Tunjukkan sentuhan pribadi melalui komunikasi tatap muka. Tidak harus menghabiskan banyak waktu,orang tua cukup membuat anak menjadi sesuatu yang berharga.

Jauhkan gadget saat kegiatan bersama keluarga.Selama acara sosial bersama keluarga, mari membiasakan untuk jauhkan segala gadget. Jangan di letakkan di atas meja, karena segala notifikasi dari gadget tersebut bisa mengalihkan perhatian. Menaruh gadget di atas meja bisa mengartikan anak yang ada di depan oarng tua tidak mearik . Jangan buat anak menjadi sakit hati, dan membalasnya dengan asyik bermain gadget-nya sendiri. Gadget bukan prioritas utama. Bangun pagi langsung mencari handphone. Banyak dari orang tua yang mengisi rutinitas pagi dengan cek e-mail, membalas BBM, atau sekadar melihat notifikasi sosial media. Meskipun sulit namun perlu dicoba. Mulailah hari dengan mengaji bersama anak atau meluangkan waktu untuk ngobrol ringan bersama keluarga sebelum berangkat ke kantor.

Tetapkan zona gadget free.Bisa diterapkan ruangan bebas gadget seperti di kamar dan ruang makan angan biarkan laptop, handphone, dan alat-alat teknologi lainnya mengganggu waktu kebersamaan anak dan orang tua. Bagaimana sebuah keluarga bisa saling mendekatkan diri, kalau orang tua dan anak sama-sama masih sibuk dengan gadget masing-masing.

Yang terpenting dari kesemuanya adalah kesadaran bahwa gadget hanyalah alat bantu manusia, maka penggunaan gadget yang bijak, baik untuk anak maupun orang tua akan menghindarkan kita semua dari perilaku negatif dari pengguanaan gadget yang tidak bijak.

Sumber

Wednesday, November 25, 2015

Cara Mengajari Anak Tentang Persaingan Sehat




Disetiap kompetisi pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Yang menang merasa bahagia, senang dan tertawa karena prestasi dan keberhasilannya, tetapi yang kalah ada wajahnya berubah asam, menangis dan marah karena mereka kalah. Anak yang selalu menang akan menjadi lebih kompetitif dan harus menjadi juara pertama dalam segala hal. Hal ini tidak bagi perkembangan jiwanya karena bila dia kalah sekali saja maka dia akan mudah marah, sedih dan sangat merasa kehilangan.
Mengajari anak untuk bersaing dengan cara yang sehat telah menjadi pembelajaran bagi orang tua dan anak. Bagaimana mengajari anak untuk menguasai sikap yang sehat dan merasa senang atas kesuksesannya tetapi dia tidak marah ketika dia kalah. Dia menerima dengan lapang dada kekalahannya karena ia tahu tidak mungkin untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, sepanjang waktu. Tidak ada yang sempurna.
Berikut beberapa tips tentang cara mengajarkan anak Anda tentang persaingan yang sehat dan berlapang dada ketika kalah.
Ajari anak bahwa setiap orang berbeda.
Sebagai orang tua kita bisa mengajarkan anak-anak bahwa setiap orang berbeda dan unik. Kita bisa bicara dengan anak-anak kita tentang fakta setiap anak memiliki bakat. Misalnya Sarah mungkin cepat berlari, sementara Budi pandai menggambar. Joni mungkin pandai berhitung tetapi tidak begitu pandai menulis. Ema mungkin pintar berenang tetapi tidak pandai menyanyi.
Sehingga anak mulai mengerti mereka memiliki bakat yang berbeda, mereka memiliki kelebihan dan kelemahan, mereka kemudian siap untuk belajar dan mereka menyadari tidak mungkin menjadi yang terbaik di segala sesuatu dan bahwa tidak apa-apa untuk berbuat lebih baik dalam satu subjek atau bakat daripada yang lain.
Ajarkan anak-anak bahwa kekalahan itu tidak jelek
Kekalahan memang tidak pernah menyenangkan. Dari anak-anak usia muda kemenangan adalah hasil terbaik. Sebagai orang tua sangat penting untuk mengajarkan anak-anak kita bahwa tidak apa-apa untuk kalah. Kita bisa berbicara dengan anak-anak tentang pentingnya setiap orang memiliki kesempatan untuk menang. Kita dapat mengajarkan anak-anak kita untuk merasa bahagia ketika teman-teman mereka menang.
Ajari anak bahwa untuk mencapai kemenangan membutuhkan kerja keras.
Sebagai orang tua kita bisa mengajarkan anak-anak kita bahwa untuk menjadi yang terbaik pada sesuatu kompetisi kita harus berlatih dengan keras. Jika putri Anda ingin mendapatkan nilai tinggi dalam lomba pidato maka kita harus berlatih berbicara sehari-hari. Orang tua harus membantu usaha anaknya untuk menjadi lebih baik. Orang tua bisa mengajarkan anaknya bahwa apa yang kita lakukan dalam segala hal hasilnya terbagi menjadi  "baik, lebih baik dan terbaik". Dan untuk itu, penting bagi kita mencoba yang terbaik, kita bisa bahagia ketika kita mendapatkan hasil yang lebih baik daripada yang kita lakukan kemarin bukan menjadi pemenang dalam segala hal.
"Baik, lebih baik, terbaik" adalah prinsip yang benar-benar dapat membantu dalam setiap situasi kehidupan, bukan hanya ketika kita berkompetisi, tetapi juga di semua kegiatan yang kita melakukan. Kita bisa mengajarkan kepada anak-anak kita bahwa kalau kita tidak menang atau mendapatkan hasil yang sempurna, itu tidak membuat kita sebagai individu yang lemah.
Ajarkan anak-anak untuk bersenang-senang.
Sering kali hasil akhir membuat anak lupa merasakan kesenangan atau mendapatkan pelajaran  dari kompetisi tersebut. Kita dapat mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi olahragawan yang baik dan menikmati proses partisipasi dalam permainan atau kegiatan tanpa terperangkap dalam sisi kompetitif. Tentu saja penting untuk mencoba memenangkan perlombaan atau untuk menang, namun bukan akhir dari dunia jika kita tidak menang.
Ajarkan anak-anak bahwa tidak semuanya kompetisi. Mengajarkan pentingnya kerja tim atau bekerja sama.
Kita dapat mengajarkan anak-anak kita untuk bekerja sama sebagai sebuah tim untuk menetapkan tujuan dan berpartisipasi dalam kegiatan yang membawa kita bersama-sama sebagai sebuah tim. Mengajar anak-anak kita untuk bekerja sama merupakan prinsip penting. 
Dengan mengajarkan anak-anak dari sekarang menjadi tangguh, kita dapat mempersiapkan mereka untuk kehidupan dewasa di masa depan. Anak-anak kita dapat belajar untuk bersaing, bersenang-senang dan belajar bagaimana untuk bangkit kembali dari kegagalan hidup dan kekecewaan.
Kita bisa berbicara dengan anak-anak kita tentang kompetisi. Kita bisa mengajarkannya dengan member contoh dan menunjukkan kepada anak-anak kita yang kehilangan kesenangan atau gagal tes bukanlah akhir dari semuanya. Kehilangan hanyalah sebuah kesempatan untuk mencoba lagi dan kesempatan untuk menjadi lebih sukses.

Thursday, June 19, 2014

Mengajari Anak Mengenal Alam Melalui Berkebun



Banyak sekolah pendidikan anak usia diniyang yang mengajari anak-anak untuk bekerja dan bermain di kebun untuk mengenal alam. Anak-anak berpartisipasi dalam penanaman pohon, memetik gulma, penyiraman tanaman, dan belajar berbagai teknik pengomposan. Anak-anak belajar tentang alam saat berinteraksi dan bekerja di kebun.
Tujuan dari kegiatan berkebun untuk sekolah PAUD adalah untuk menginspirasi anak-anak mengembangkan hubungan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya. Bekerja di kebun akan mengembangkan pikiran dan tubuh mereka melalui aktivitas fisik, berkebun akan mengekspos mereka untuk melihat keajaiban alam, dan akan memberikan kesempatan pada anak-anak untuk bermain kreatif dan spontan.
Berkebun mendorong pengembangan kebiasaan dan sikap mencintai lingkungan seumur hidup yang dapat menyebabkan menciptakan masa depan yang berkelanjutan. Dengan menghabiskan waktu di taman, anak-anak akan mendapatkan pengalaman untuk belajar tentang dari mana makanan berasal dan belajar tentang siklus alam. Berkebun mendorong anak-anak untuk berhubungan dengan diri mereka sendiri dan lingkungan alam. Kegiatan berkebun memungkinkan mereka mendapatkan pengalaman penuh dengan dunia di sekitar mereka, serta belajar tentang bagaimana tanaman tumbuh dan berkembang dapat mempengaruhi mereka dan masa depan mereka.
Membangun taman merupakan cara yang ideal untuk anak-anak terlibat secara aktif  menanam sayuran dan bunga milik mereka sendiri. Diskusi tentang pentingnya konservasi air merupakan bagian alami dari proses ini. Hal ini penting bagi anak untuk belajar hal-hal tersebut dari muda sehingga mereka dapat menggunakan keterampilan ini saat mereka tumbuh dewasa. Anak-anak ini bisa menciptakan sesuatu dari nol dan belajar bagaimana rasanya membuat sesuatu untuk diri sendiri. Dan itu sangat menyenangkan ketika Anda dapat makan atau berbagi dengan orang lain.
Kegiatan pengomposan memungkinkan anak-anak untuk belajar tentang bagaimana makanan dan limbah tanaman dapat berubah menjadi sesuatu yang berguna, kotoran dapat digunakan kembali untuk memelihara bumi dan tanaman yang baru tumbuh. Mereka juga belajar tentang ilmu ekologi dan pengelolaan lingkungan melalui program ini. Anak-anak bisa belajar semua tentang siklus alam dan bagaimana daur ulang dapat menjadi hal terbaik untuk alam kita.
Guru dan orang tua menekankan pentingnya gerakan untuk perkembangan kognitif pada anak-anak. Kegiatan berkebun adalah aktifitas terbaik untuk perkembangan kognitif anak. Anak-anak bisa menjadi aktif di alam dan mereka membiarkan kreativitas dan energi mereka bebas karena mereka merencanakan sebuah taman yang indah. Gerakan kreatif adalah cara yang menyenangkan bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilanfisik, energi, merangsang imajinasi dan meningkatkan kreativitas. Berkebun adalah skill yang sempurna untuk seorang anak memperoleh hidup yang aktif dan sehat.